Jalan-jalan Asyiikk di Kyoto, First Day in Kyoto

Kyoto, Kyoto merupakan sebuah kota yang terletak di wilayah Kansai ini memang tak sebesar Tokyo. Bahkan jika dilihat dari jumlah populasi, Kyoto ini ‘hanya’ menempati peringkat 6 atau 7 dari seluruh kota di Jepang, sementara Tokyo (yang sejatinya merupakan nama kota sekaligus prefektur) menempati posisi pertama. Sejenak kita mengalihkan kota Tokyo yang sangat sibuk dengan hiruk pikuknya dengan suasana yang tenang di kota Kyoto.

Jadi, di kota ini pun jangan harap kalian akan menemukan gedung pencakar langit layaknya gedung-gedung di distrik Shinjuku, Tokyo. Jangan pula kalian menanyakan apakah di Kyoto ada distrik maupun kawasan khusus yang identik dengan otaku dan tren fashion terkini seperti Harajuku dan Shibuya di Tokyo maupun Amerikamura di Osaka.

Namun, Kyoto ini menyimpan seribu pesona nostalgia kejayaan Jepang di masa lalu yang membuatnya terlihat seksi dan molek di mata wisatawan, khususnya bagi mereka yang mengagumi sisi orisinalitas dalam budaya tradisional dan sejarah Jepang. sungguh kota yang penuh dengan sejarah dan historikal yang masih dapat dinikmati sampai dengan saat ini.

Pagi itu, setelah menempuh perjalanan yang panjang dari Tokyo menggunakan bus malam kamipun sampai di Kyoto Station sekitar pukul 06.30. kamipun bergegas masuk ke dalam station untuk mencari toilet untuk sekedar mencuci muka dan menggosok gigi. Kami belum bisa check in ke penginapan karena check in penginapan di atas jam 15.00, jadi kami putuskan untuk mencoba explore kota Kyoto di waktu pagi sampai sore. Station Kyoto ini sangat megah dan desiannya sangat unik dan modern dan tentunya juga sangat besar.

 

 

Sedikit tips dari saya, pada saat kita ingin jalan-jalan namun barang bawaan yang banyak senantiasa menjadi penghambat mungkin box penitipan barang akan sangat bermanfaat demi mobilitas yang tinggi dan tidak menggangu jalan-jalan kita. Di beberapa station besar di Jepang menyediakan box penitipan dengan size sesuai kebutuhan.IMG_1454

Salah satu box penitipan barang di Kyoto Station

Ada yang menarik dari box tersebut, ada 2 (dua) warna indikator yaitu merah dan hijau. Artinya jika lampu indikator berwarna merah berarti status box engaged atau sudah ada yang menyewa namun jika hijau status box available yang artinya dapat kita sewa. Harganya pun bermacam-macam, 700 Yen, 500 yen, 300 yen tergantung size dari box tersebut. penyewaan tersebut berlaku untuk 1×24 jam. Caranya mudah, tinggal masukkan barang/koper/bag ke dalam box tersebut, kemudian masukkan koin sesuai dengan nominal harga, setelah selesai akan muncul kertas print seperti struk belanja. Struk ini mesti disimpan dengan hati-hati karena struk ini digunakan untuk membuka pada saat akan mengambil barang kita. Pengalaman kami, salah satu teman kehilangan struk tersebut sehingga harus mengurus ke office dan dikenai denda sekitar 1000 yen. Lumayanlah untuk sekali makan, hehee.

Kamipun mulai mencari informasi mengenai, moda transportasi apa yang cocok untuk wilayah Kyoto. Dan kamipun bertemu dengan salah satu warga lokal yang terlihat terburu-buru namun masih mau dan dengan keramahannya membantu kami menjelaskan moda transportasi yang cocok dan sampai memandu untuk membeli tiket atau pass. Sungguh sebuah kota yang ramah bagi traveller. Kebetulan warga lokal tersebut mempu berbicara bahasa inggris. Kami pun membeli two day pass untuk bus. Sesuai dengan penjelasannya bahwa untuk wilayah Kyoto lebih baik menggunakan moda Bus, karena coverage bus lebih jauh dibanding train atau MRT. Jalur MRT (subway) di Kyoto jalurnya sedikit dan tidak bisa menjangkau daerah-daerah wisatanya. Oh ya ,di lantai III atau II Kyoto Sttaion tersedia mini market yang cukup lengkap menyediakan makanan untuk sarapan. Tentunya makanan siap saji yang hanya cukup dipanaskan. Jangan lupa untuk meminta Bus Navi Legend, bisa diminta di Information Desk Kyoto Station.

Pelarian pertama hari itu adalah ke Arashiyama, kamipun cukup buta dengan map yang baru nan ribet (contoh Map Kyoto seperti pada postingan itinerary 9 hari di Jepang , dari Kyoto Station kami menaiki train ke menuju ke Marutamachi Station, kemudian pilih bus yang terkoneksi ke Arashiyama Area.

Singkat cerita sampai di Arashiyama Area,

 

 

Arashiyama Area ini banyak mencakup spot yang banyak dikunjungi oleh wisatawan. salah satu yang paling banyak adalah Bamboo Groove Arashiyama, salah satu spot yang sangat apik untuk photogenik. Di sekitaran jembatan Togetsukyo ada beberapa toko yang menjual souvenir, banyak yang lucu dan unik namun harganya cukup mahal. Di sekitaran jembatan ini cukuplah untuk ambil beberapa foto, viewnya yang greeney juga cukup memanjakan mata selain view jembatan yang mempunyai nilai historis tinggi tersebut. Jika kalian ingin menikmati sesuatu yang baru, dapat menggunakan jasa becak wisata yang ditarik babang jepang, mengenai tarif saya kurang tahu nih. Soalnya belum pernah coba, hehehe. Sepertinya sih rute becak ini bisa sampai kawasan atau spot wisata lainnya seperti ke Arashiyama Bamboo Groove. Setelah puas mengambil beberapa foto, saat nya beralih ke spot lain….

Daikakuji Temple

Saatnya manfaatkan bus pass yang telah kita beli tadi, tinggal tunggu di halte sekitar, biasanya sih ada tanda atau rambu bus, tunggu saja di sekitarannya. Naik Bus kemudian berhenti sampai mentok ke Terminal di dekat Daikakuji Temple. Tinggal jalan sedikit kita akan disuguhkan dengan sebuah temple yang khas jepang, setelah di Tokyo sebelumnya sering melihat spot canggih yang membuat kita kagum, saatnya disini kita disuguhkan spot wisata yang cultural dan penuh sejarah.

 

 

Ini adalah Temple yang pertama kami kunjungi dan masuki di Kyoto, banyak hal baru yang saya baru mengetahui jika masuk ke dalam kuil atau temple di Jepang. Yups, memasuki tempat suci pastinya ada beberapa rule yang mesti dipatuhin. Hampir sebagain besar temple atau kuil di Kyoto ini lantainya berupa kayu sehingga kita harus melepas sepatu sesuai dengan aturannya dan tentunya dilarang berlari-lari di atas lantai kayu tersebut. Uniknya di beberapa kuil sepatu dititipkan di bagian depan namun ada satu kuil sepatu mesti di dibawa sendiri menggunakan kantong plastik yang telah disediakan. Di beberapa tempat di dalam kuil pun ada bagian yang tidak boleh di foto, dan kita harus menghormati dengan menaatinya. Beruntungnya, pada saat kami di Daikakuji Temple kami menyaksikan para Bhiksu Kuil sedang melakukan ibadah, dan pada moment yang sama dilarang merekam video.

Setelah mengambil beberapa foto, yukk jalan lagi..

Bamboo Groove Arashiyama

Spot wisata ini tidak usaha dipertanyakan lagi kepopulerannya, karena jika kita coba cari tahu melalui mesin pencari mbah gugel sudah barang tentu merupakan tempat yang instagramable banget dan direkomendasikan. Sayangnya, kamera saya disini kehabisan daya, dan apalah daya ngga ada baterai cadangan. jadi ceritanya begini, sebelum pergi saya order nih baterei cadangan di olshop, eh ampe berangkat belum sampe, padahal penting banget tuh bagi yang suka hobby jalan-jalan dan foto secondary power is necessary. Alhasil, Just keeped in my memory if you didn’t bring that.

 

 

Banyak hal menarik yang bisa dinikmati di area ini, oh ya disini free loh. Ada satu kuil juga di area ini, dan pohon bambu yang rindang serta tersusun rapi sangat ciamik untuk berfoto ria. Bahkan pada saat itu ada yang lagi foto pre wedding loh. Menarik bukan…

Setelah cukup puas berfoto ria, saatnya berpindah ke tempat wisata lain,. lets get out..

Naik bus tayo lagi, dan sampailah di..

Ninna Ji Temple

Pada saat masuk, kita akan disuguhkan dengan 2 destinasi kuil tentunya dengan biaya entrance yang berbeda. Kuil ini halamannya tersusun dari kerikil yang rapi dan lantai kayu yang asyiik serta pemandangan sekitar yang hijau sangat meneduhkan dan menyejukkan. Disini pada saat masuk, setelah membayar tiket masuk pastinya, kita akan diberikan satu kantong plastik atau asoy atau kresek untuk mewadahi masing-masing sepatu kita dan kita wajib membawa sepatu dalam plastik itu kemanapun kita berjalan di lokasi kuil.

Pemandangan di kuil,

 

 

 

Kinkakuji Temple, Kuil Berkelir Emas

Kalau mengenai spot ini ngga usaha dipertanyakan lagi kepopulerannya di Kyoto, menurut saya ini salah satu destinasi yang wajib dikunjungi jika ke Kyoto. Disini kamera saya benar-benar telah habis masa perjuangannya dan harus beristirahat dengan tenang. Alhasil kamera handphone jadi opsi yang paling memungkinkan. Sebenarnya dengan beberapa teknik fotografi, kamera ponselpun hasilnya bisa seperti kamera digital.

 

 

Benar-benar perfect, cuaca hari itu cerah dan sangat bagus untuk berfoto ria. pada saat itu di kuil ini begitu rame dan disarankan jika datang dengan group agar tidak terpisah-pisah. Saya mengalami kehilangan rombongan disini gegara mengejar salah satu teman agar dianya tidak nyasar namun malah harus kehilangan jejak dari rombongan lain. Penting nih, bagi yang jalan-jalan group travel harus bisa nempatin diri jangan suka ngilang dari rombongan. Kita disini kan sama-sama jalan dan liburan bukan jagain anak orang. Intinya bisa saling menghargai antar temen satu group lah. wah sorry nih jadi curhat, hehehe.

Hari semakin sore, dan setelah berkumpul kamipun sepakat bahwa Kinkakuji Temple adalah destinasi terakhir hari itu. Karena tas/bag kami masih di Kyoto Station, kamipun harus kembali ke Kyoto Station untuk mengambil barang-barang baru kemudian menuju ke penginapan. Seperti yang telah saya singgung sebelumnya, box teman saya tidak dapat dibuka karena kertas atau struk pada saat menitipkan raib entah kemana. Cukup lama karena harus mengurus adminitratif dulu dan harus membayar denda sebesar 1.000 Yen.

DSCF0728
Bus di Kyoto, tampak dari dalam. Tombol kuning itu mesti ditekan jika kita ingin berhenti di salah satu Halte yang telah disebutkan di Layar di dekat pak sopir. Pintu depan untuk penumpang yang keluar dan pintu tengah untuk naik.

Singat cerita kamipun akhirnya naik bus menuju ke halte terdekat dari penginapan. Alamat penginapan pun kami harus bertanya ke bagian informasi dan beberapa orang lokal karena yang kami pegang cuman map transportation dan alamat di kertas print penginapan dari http://www.booking.com, sungguh petunjuk yang minim. Saran saya buat yang mau travelling, koneksi internet penting banget tuh setidaknya kita ada petunjuk dan bantuan jika kita kesulitan. Akhirnya sampailah kami di halte dekat penginapan dan masalahnya kita ngga tahu tuh lokasi penginapandnya dan akhirnya kamipun bertanya ke pegawai sebuah mini market yang cukup besar di sekitar sana. Hanya 2 dari teman saya yang masuk dan bertanya. Namun, alangkah terkejutnya tiba-tiba ada seorang wanita berseragam petugas toko dan berperawakan cukup besar dengan setengah berlari keluar dari toko. Dalam hati saya, apa yang telah dilakukan oleh kedua teman saya sampai ada petugas yang berlari keluar. Dengan gestur dan isyarat seperti “follow me now” di berlari-lari kecil, sontak kamipun ikut di belakangnya sambil membawa koper masing-masing. Dengan nafas terengah-engah kamipun mengikutinya, sekitar 300 meter dia pun menunjuk sebuah bangunan, dan kemudian berbalik kembali ke arah toko tadi dengan berlari lagi. Kamipun dibuat takjub sore menjelang malam saat itu, begitu baik dan ramahnya orang Kyoto sampai mengantarkan kami di depan penginapan sampai harus berlari dan pada saat itu dia sedang bertugas loh. Luar biasaa, satu kata yang tepat. Mengantar sampai depan alamat demi  pendatang agar kita tidak tersasar. Saluutt.. Dan kamipun mengucapkan “Arigato” atau terima kasih banyak dengan membunguk dan diapun membalas dengan membungkuk.

Akhirnya mandi juga, hahahha. di Kyoto pun kami tinggal di dormitory room, satu room ada 6 bed, dan kami berlima sehingga satu room diisi oleh kami berlima saja.

Jalan-jalan asyiik hari pertama di Kyotopun selesai dan kami harus beristirahat agar fit untuk esok hari.