Itinerary Two Days Trip (Malaysia – Singapore) Part 1

Malaysia dan Singapore adalah dua negara “jiran” atau tetangga Indonesia yang kebetulan berbatasan langsung dengan Indonesia. Banyak sejarah dari semenjak dahulu yang mengaitkan ketiga negara tersebut. Sama-sama anggota ASEAN atau Asosiasi Negara-negara Asia Tenggara dan beberapa diantaranya penduduknya juga sama-sama merupakan suku melayu sehingga terdapat beberapa kesamaan dalam bahasa dan budaya. Namun, Singapore jauh lebih maju dibandingkan dengan kedua tetangganya tersebut.

Perjalanan ini saya lakukan di penghujung tahun, yaitu bulan Desember tahun 2017. Saat itu saya sebenarnya tidak berencana untuk ngebolang ke luar negeri, sehingga akibatnya tiket yang saya dapatkan terbilang mahal karena tidak direncanakan dari jauh-jauh hari. Tiketpun lebih mahal dari biasanya karena saat itu libur di hari jumat, long weekend dan cocok untuk trip-trip pendek. Keputusan untuk pergi  awalnya dikarenakan ajakan oleh dua cewek yang kebetulan adalah teman kantor. Mereka berdua berencana untuk trip ke Malaysia – Singapore selama dua hari. Dan sayapun sempat diajak namun tidak ada ketertarikan sebelumnya. Namun setelah mendekati waktu perjalanan, mereka telah memesan tiket dan fix berangkat. Disini kesetiakawanan saya diuji, karena untuk mereka berdua pergi ke luar negeri secara backpacker-an masih menjadi hal yang baru bagi mereka. Oleh sebab itu saya putuskan untuk ikut bersama sekaligus meng-guide mereka dan tentunya dengan harga tiket yang sudah melambung tinggi. Haahhaa. There is no choice anymore, just let it go.

Day 1

Perjalanan ke Malaysia (Kuala Lumpur)

Keberangkatan dari Palembang melalui Bandar Udara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II menggunakan maskapai Air Asia. Air Asia menawarkan penerbangan secara rutin pulang pergi Kuala Lumpur – Palembang dengan flight satu kali sehari. Ongkos tiketnya pun jauh lebih murah daripada penerbangan domestik, semisal Palembang – Jakarta. Ini menjadi problematika tersendiri untuk mahalnya tiket penerbangan domestik ke berbagai wilayah di Indonesia. Padahal Indonesia mempunyai wisata alam yang begitu indah dan natural seperti Bali, Lombok, Labuan Bajo, Raja Ampat, Maluku, dan lain-lain.

Penerbangan Air Asia dari Palembang ke Kuala Lumpur merupakan penerbangan singkat yaitu ditempuh sekitar satu setengah jam saja. Perlu diingat untuk seluruh penerbangan LCC (Low Cost Carrier) di Kuala Lumpur akan mendarat di Bandara KLIA2 (Kuala Lumpur International Airport II). Jadi pemandangan umum yang akan dijumpai di bandara ini adalah hampir seluruhnya pesawat yang taxi, take off, landing adalah Air Asia. Seakan-akan KLIA2 adalah bandara milik Air Asia. Selain karena Malaysia/Kuala Lumpur merupakan Home Based dari maskapai Air Asia.

Terdapat perbedaan waktu +1 Jam antara WIB (Waktu Indonesia Barat) dengan waktu Kuala Lumpur. Sekitar pukul 10.30 waktu Kuala Lumpur, Air Asia dari palembang mendarat. Layaknya Bandara dengan skala International, jarak dari garbarata ke gedung terminal utama bandara cukup jauh. Kemudian lazimnya kita pertama masuk ke wilayah kedualatan suatu negara, pastinya kita akan dihadapkan dengan pemeriksaan oleh petugas imigrasi. Untuk Malaysia dan Singapura, passport Indonesia tidak memerlukan Visa. Jika ingin mengunjungi laman yang menyediakan informasi mengenai negara-negara yang harus memerlukan Visa, VoA (Visa on Arrival), non Visa bisa mengunjungi laman berikut PassportIndex 

Setelah melewati petugas imigrasi kita juga akan meliewati petugas custom atau petugas cukai bandara. Pemeriksaan sih berjalan lancar tanpa kendala berarti, cuma waktu menunggu di antrian biasanya yang cukup lama menunggu. Langkah pertama yang saya ambil adalah mencari ATM, Hahhahaa. Karena kebiasaan saya nih jika bepergian ke Luar Negeri tidak mempersiapkan atau menukarkan pecahan mata uang asing negara yang dikunjungi. Saya percaya, sepanjang masih tersedia jaringan VISA maka kartu plastik masih dapat digunakan. Percobaan pertama masukin ATM ke mesin ATM salah satu Bank (*saya tidak ingat persisnya) namun hasilnya gagal. Percobaan dengan ATM di sebelahnya akhirnya berhasil. Mengambil beberapa ringgit untuk modal seharian di Malaysia. Selanjutnya memilih moda transportasi dari Bandara ke Kuala Lumpur. Moda yang ditawarkan cukup banyak mulai dari kereta cepat, Bus, Taxi, Charter, Grab. Jika kita bepergian dengan 3 atau 4 orang lebih baik menggunakan Grab Car, karena lebih flexible. Grab di Malaysia dapat di order dari Bandara berbeda dengan di Indonesia yang melarang ojol dan taksol menarik penumpang dari Bandara. Jika kita ingin ke Pusat Kuala Lumpur maka tujuan kita ke Nu Central. Tujuan saya dari Bandara ke Nu Central kemudian baru berpindah ke tujuan selanjutnya.

Destinasi 1

Karena pada saat itu kebetulan hari Jumat, saya harus menunaikan kewajiban bagi kaum muslimin (muslim laki-laki) yaitu sholat Jumat. Sehingga tujuan pertama adalah Mesjid Jamek Kuala Lumpur. Pada saat sholat jumat, mesjid ini begitu ramai dipadati oleh masyarakat sekitar dan saya tidak mendapat tempat di bagian masjid utama. Namun mendapat tempat di pelataran atau halaman masjid, cukup panas dengan teriknya matahari pada waktu itu.

Setelah sholat jumat, perut pun sudah mulai berteriak dengan riangnya menandakan sudah waktunya diisi. Di sekitaran mesjid terdapat beberapa restoran cepat saji yang bisa dicoba seperti KFC dan Burger King. Karena di Palembang sampai dengan saat ini belum tersedia BK, maka saya memilih BK untuk menemani makan siang saat itu. Kedua teman saya mencoba makan di KFC hanya beberapa meter dari BK.

Tujuan selanjutnya adalah dataran merdeka, cukup berjalan beberapa ratus meter dari masjid Jamek dapat menemukan sebuah komplek bangunan yang ikonik dan futuristik bergaya Eropa di sekitaran dataran merdeka. Disini kita dapat mengambil beberapa foto dengan berbagai latar belakang yang menarik.

Di sekitaran dataran merdeka juga ada bangunan yang iconik yang sering dijadikan tempat berfoto bagi pelancong. National Art Gallery namanya, di depannya terdapat landmark “I Love Kuala Lumpur”.

DSCF6175
National Art Gallery, Kuala Lumpur

Di sekitaran komplek bangunan dataran merdeka dan dekat dengan Masjid Jamek ada bangunan yang cukup iconik, namun saya tidak mengetahui secara pasti nama bangunan tersebut.

DSCF6183
Bangunan iconik di dekat Masjid Jamek, Kuala Lumpur

Setelah merasa lelah memutari komplek tersebut, saya pun sembari menunggu kedua teman saya yang sedang sholat dzuhur di Mesjid Jamek. Saya memerhatikan sekitar Masjid tersebut ramai dikunjungi oleh orang yang akan menjalankan ibadah shalat maupun wisatawan yang sedang melancong tentunya dengan pakaian yang menutupi aurat.

Selesai shalat kami menuju ke KL Tower, ini yang menarik dan mungkin jadi pelajaran bagi kami dan juga yang ingin berencana ke Kuala Lumpur, akibat melihat google maps yang terlihat dekat jika dijangkau dengan jalan kaki namun ternyata jalan yang ditempuh berputar-putar dan pastinya kita akan dibuat kelelahan. Saran saya tetap gunakan grab untuk flexibilitas. Hampir 1 jam berjalan dan keringat semakin bercucuran, yang dijadikan petunjuk cuman arah dari gedung yang menjulang tinggi. Trust me, it can’t be helped. Akhirnya sampai di lereng, KL Tower terletak di atas bukit sehingga untuk naik jika  ditempuh dengan jalan kaki akan terasa berat namun tenang ada free suttle bus yang siap mengantar. Sampailah di Loby KL Tower, disini pilihan berat menanti, untuk masuk dan naik ke KL Tower harus membayar admission ticket yang harganya menurut saya terlalu mahal. Seingat saya hampir 400 ribu rupiah per orang untuk sekali naik. Kami memutuskan untuk tidak naik ke atas tower meskipun penawaran oleh marketing nya  kian gencar. Kamipun hanya mengambil foto dari kaki KL Tower.

DSCF6202
KL Tower, Kuala Lumpur, pada saat cuaca mendung

Setelah beberapa saat memutari sekitaran tower, kamipun harus berpindah ke destinasi lain. Karena kami belum melaksanakan shalat Ashar maka tujuan hendak kami tuju adalah Masjid. Karena tujuan kami selanjutnya adalah KLCC Tower, maka pencarian masjid adalah masjid di sekitaran KLCC Tower. Sekali lagi dengan bantuan grab kamipun sampai di Masjid tersebut.

Mesjid tersebut megah, bersih dan nyaman serta mempunyai fasilitas lengkap. Disini ada sesuatu yang saya sesali karena kedua teman saya sempat mandi di mesjid ini. Hahahaha. Sedangkan saya tidak mengetahui jika diperbolehkan mandi di mesjid tersebut. Oh ya, di beberapa masjid besar di Kuala Lumpur kita diperbolehkan mandi karena disediakan kamar mandi yang dilengkapi shower. Kedua teman saya selangkah lebih maju saat itu. Rasa gerah yang mmenghampiri siang itu setidaknya telah terselesaikan oleh mereka sore itu. Di Masjid tersebut kami menunaikan shalat Ashar sendiri dan Maghrib berjemaah. Masjid itu tidak sempat diabadikan dalam foto, foto yang saya posting diambil dari salah satu blog

masjid As Syakirin
Masjid As-Syakirin, near KLCC, Kuala Lumpur

Kemudian belum lengkap rasanya datang ke Malaysia jika tidak berkunjung ke bangunan paling iconik Malaysia sejak zaman dahulu, KLCC Tower, atau menara kembar Petronas. Disini ramai para pelancong yang bersiap untuk berfoto ria. Foto yang saya ambil tidak terlalu bagus karena saya tidak mengetahui pengaturan kamera saya untuk kondisi malam hari atau low light.

Setelah melihat jam sudah pukul 09 malam lebih waktu Kuala Lumpur, kamipun bergegas ke tempat pemberangkatan Bus Malam ke Singapore. Nama terminal pemberangkatan Bus tersebut adalah Nice Bus terminal OLD KTM Station Kuala Lumpur. Di sebelah pemberangkatan Bus tersebut terdapat rumah makan halal sepertinya sih rumah makan makanan india, namun cukup lengkap karena ada nasi goreng dan sop. Kamipun mencoba menu makanan di resto tersebut, rasanya pun tidak terlalu mengecewakan terlebih pada saat itu kami sudah merasa kelaparan. Terminal ini berseberangan dengan station kereta di Malaysia (KTM Berhad). Selesai makan kamipun mencari tempat untuk shalat Isya, dan google maps merekomendasikan sebuah masjid di dekat KTM Berhad. sehingga kamipun menyeberang dan bejalan beberapa meter lagi sampai menemukan sebuah Masjid Besar, Masjid Negara Malaysia. Kamipun meminta izin kepada penjaga masjid untuk shalat isya, dan meraka dengan ramah mengijinkan kami. Sayapun tidak mau kecolongan kali ini, disini sayapun mandi dan berganti pakaian. Rasanya sangat sangat segar. Dari informasi wikipedia, Masjid Negara Malaysia adalah masjid kenegaraan Malaysia yang terletak di Kuala Lumpur. Dibangun pada tahun 1963 dan diresmikan pada 27 Agustus 1965, Masjid Negara merupakan lambang keagungan Islam sebagai agama resmi di Malaysia. Masjid ini dapat menampung sebanyak 15.000 orang jemaah.

Oh ya, disini ada kejadian menarik, tiket ke Singapore via Bus yang dipesan oleh teman saya sebelumnya melalui traveloka.com ternyata salah tanggal, Hahahaa. Beruntung malam itu kami masih mendapat seat untuk Bus tujuan ke Singapore.

Perjalanan panjang malam itupun dimulai, Bus yang sangat nyaman ditambah jalan yang mulus sangat menggoda mata untuk tutup pintu. Heehhe.

Selamat Jalan Kuala Lumpur dan Selamat Datang Singapore………