Exploring Tokyo

Its been one year,..

Tak terasa sudah lebih satu tahun, perjalanan saya menjelajahi negeri di Asia Timur, negara yang berbatasan dengan duo korea yang sedari dulu tidak rukun, namun kabar baiknya sekarang sudah ada kemajuan dalam hubungan keduanya, CLBK mungkinkah. Apapun itu kita harus terus mendukung perdamaian dunia seperti yang telah diamanatkan oleh Pembukaan UUD 1945, yang dahulu ketika masih menggunakan seragam merah putih, biru putih dan abu-abu putih begitu melekat di kepala.

Kembali ke masa kini, entah mengapa saya masih ingin membagikan sepenggal kisah saya menelusuri negeri matahari terbit.

Day 1,

Tokyo, one of the busiest city in the world. What kind of experience you can get in Tokyo? Lets check this out….

Alarm handphone berbunyi massive, cukup untuk membangunkan satu kampung. Hahaha. Seketika itu saya terbangun dan betapa terkejutnya, karena saya adalah the last person in group that wake up late, Hahhaa. Ternyata teman-teman backpacker saya sudah bangun sedari tadi, dan tidak tega membangunkan saya yang pulas tertidur setelah melewati malam yang panjang. (Baru bisa mencicipi enaknya kasur pukul 06.30). Jam handphone saat itu menunjukkan pukul 11.00. Emang bener-bener nikmat tidur di Jepang, jam 11.00 aja masih pengen narik selimut lagi. Maklumlah anak tropis, biasanya kalau pagi kan udaranya panas gerah, di Jepang dingin cuy, hahaha. Tapi berpikir lagi, ngapaian molor terus, klo mau molor mah di rumah aja, jangan di Jepang. Hahhaha

Lets, move…

Karena jam sudah menunjukkan pukul setengah 12, hal pertama yang kami pikirkan adalah mengisi perut yang belum terisi dari kemarin siang (khusus saya sendiri). Hahhaaa. Saya lihat temen-temen khususnya yang cewek membawa “pop mie” dari Indonesia. Pop Mie Indonesia klo diseduh di Jepang terasa lebih nikmat tampaknya. Saya hanya bisa mencium aroma pop mie yang begitu menggoda, dan teman backpackeran saya menawari sandwich, namun teman saya juga cukup ragu apakah isi dari sandwich tersebut halal, kebetulan dari rombongan saya, saya seorang muslim seorang. Setelah bertanya kepada penjaga guesthouse, ternyata benar content dari sandwich tersebut adalah “ham“, otomatis saya tidak bisa mengkonsumsinya.

Menuju ke Nakano Station,

Guesthouse yang kami tempati di Nakano, Yadoya Orange Guesthouse, di belakang Nakano Station, berjalan kaki sekitar 300 m, biaya penginapan sebesar 2500 Yen per malam atau sekitar 300 ribu rupiah. cukup murah untuk wilayah tokyo yang padat. satu kamar terdiri dari 4 ranjang bertingkat, 8 orang dalam satu kamar dan 1 kamar mandi. Dari Nakano Station menuju ke Lidabashi Station untuk ganti train, naik Oedo Line (warna pink) ke Shinjuku. Sesampainya di Shinjuku Station, kami memnuhi panggilan alam untuk mengisi perut yang sedari kemarin siang tidak terisi nasi, terakhir terisi saat di KLIA Malaysia. Cukup lama berburu makanan di sekitar Shinjuku, bukan karena tempat jual makanan yang tidak ada, namun karena hampir seluruh toko penjual makanan menjual makanan yang kandungannya tidak halal. Akhirnya sampai di suatu kedai yang kami rasa ini “aman”, yang menjual capcai, beef, chicken. Langsung saja, kami masuk, dan kami sedikit terkejut karena salah satu teman saya langsung menyapa menggunakan bahasa mandarin. Kebetulan salah satu teman saya cukup fasih berbahasa mandarin, mereka mengobrol dan bahkan saya tidak tahu topik apa yang diperbincangkan. Dan teman saya request khusus saya special request untuk tidak menggunakan content yang tidak halal. jadilah ini…

IMG_1045
Itadakimasu
DSCF0142
Food Street di dekat Shinjuku Station

Perutpun kenyang dan hatipun senang, wkwk. Kamipun mulai berselancar menelusuri riuhnya kota Tokyo. Tapi destinasi pertama kami hari itu ke tempat yang tidak identik dengan megah dan canggih melainkan sebuah Taman Ueno atau Ueno Park. Sebuah taman yang ramai dikunjungi pada saat musim spring especially at cherry blossom atau pada saat sakura sedang mekarnya. Tapi sebelumnya kami sempat tersesat terlebih dahulu, begini ceritanya:

Dari shinjuku menuju ke ke Station Ueno, karena dari tadi malam sejak saya datang belum sempat berfoto, kali ini sempatin foto terlebih dahulu

Yoshh..

Kamipun keluar dari station, menyeberang jalan kemudian menjumpai beberapa street shop di daerah Ueno tersebut, sangat bagus sih, karena jarang dijumpai di Indonesia. Setelah kami cukup lama berputar-putar dan melihat-lihat kami sadar sepertinya kami tersesat. yeah we lost…. kamipun mulai berjalan dan seakan menjauh, dan akhirnya bertemu dengan seorang sopir truck sampah, dan kami memberanikan diri untuk bertanya perihal keberadaan Ueno Park. Dan benar kami sepertinya kesasar. Kami pun terkejut dan seakan lebih terkejut lagi, si driver truk tadi memberi tahu dengan bahasa lokal (jepang) dan kami pun kontan saja juga tidak mengerti apa yang beliau katakan. kemudian dia memberi kode untuk mengikuti di belakangnya, dengan berjalan seakan kita masuk sekolah dulu waktu tinggal 5 menit namun pintu gerbang sekolah masih jauh, dengan langkah seribu dia berjalan dan kamipun tergopoh-gopoh mengejarnya. Dan benar sekitar 800 meter kami berjalan atau sekitar beberapa blok, dia memberi tahu dengan kode dan mengatakan “Ueno” dan jelas terlihat di seberang kami sebuah taman Ueno. Kamipun terkejut dan tak lupa berucap “arigato”. Dari sini pesan moral yang dapat diambil adalah, walaupun orang jepang terkesan cuek, namun jika ada yang meminta tolong mereka akan sangat membantu kita, membantu dengan maksimal walaupun terkendala bahasa. Sungguh orang yang berhati baik. Jauh loh 800 m, dan dia harus jalan kaki kembali ke titik sebelumnya untuk sekedar membantu. Luarr biasaaa…

Kondisi di sekitar Ueno

Ueno Park

Sayangnya saya waktu itu lupa mengabadikan moment dengan Ossan (paman: dalam bahasa Jepang). Saya suka menonton film anime jepang bukan jav ya, hahhaa  sehingga sedikit banyak tahu kata-kata Jepang. Khususnya anime one piece yang saya punya koleksi dari episode 1 sampe ongoing sekarang 836. Mungkin umurnya udah tua juga itu serial anime dan manganya, manganya dari tahun 1997 dan anime mulai tahun 1999. cukup tua bukan, sudah tamat kuliah mestinya. hahahha. Kembali ke Ueno Park, Ueno Park sendiri merupakan sebuah taman yang luas, di dalamnya banyak terdapat spot-spot yang bisa dikunjungi semisal Museum dan Kebun Binatang. Area taman ini membentang seluas 53 Ha. Cukup untuk membuat betis berasa pegal. Karena area begitu luas, kami hanya berkunjung ke salah satu kuil yang ada di dalam area tersebut.

DSCF0182
Di kuil ini, saya pertama kali melihat para bhiksu shinto sedang beribadah
DSCF0183
Kumpulan doa atau wishes, jadi di Jepang khususnya di kuil akan banyak menjumpai kertas/kayu seperti d gambar yang berisi wishes.

Setelah puas menikmati suasana di Ueno park kami harus menuju destinasi selanjutnya yaitu Asakusa. sebuah tempat yang sangat populer bagi wisatawan yang berkunjung ke Tokyo. Dari Ueno tinggal turun ke bawah, karena di bawah lokasi Ueno Park terdapat Station Subway, naik tujuan ke Asakusa. Ingat, map selalu sedia di tangan.

This is it, Asakusa

 

Asakusa merupakan sebuah tempat yang menarik untuk dikunjungi, tentunya destinasi kunjungan kita ke Kuil Sensoji. Namun dari Asakusa Station ke Temple tersebut ditempuh dengan berjalan kaki. Banyak hal yang bisa dilihat disini, bentuk-bentuk bangunan di sekitar Asakusa yang instagramable. Hal lain yang dapat dilihat disini, banyak berseliweran wisatawan atau bahkan penduduk lokal yang memakai yukata atau kimono (pakaian adat Jepang). Di sekitaran Asakusan senidir banyak toko-toko yang menyewakan baju-baju tersebut. beberapa yang tertangkap oleh saya, hehhehe

DSCF0195
Berfoto dengan penduduk lokal yang menggunakan “yukata” pakaian tradisional Jepang. manis bukan? Hehhe
DSCF0206
Ricksaw, atau becak wisata di Jepang, beberapa tourist terlihat menggunakan jasa ini. Jangan gagal fokus dengan KFC di belakangnya.
DSCF0200
Saya dan teman-teman dari Backpackerindonesia

Disepanjang perjalanan dari Asakusa Station ke Sensoji Temple di Asakusa, mata kita akan dimanjakan dengan street shop yang menjual beraneka ragam makanan dan pernak-pernik khas Jepang untuk buah tangan yang dapat diberikan kepada yang terkasih. Hehehe. Jalanan yang ramai dengan wisatawan yang juga menjadi daya tarik sendiri.

Sensoji Temple (Asakusa Kannon Temple)

Setelah berjalan cukup lama dengan kecepatan slow akhirnya kami sampai di Asakusa temple. Kuil atau temple ini terdiri dari 2 (dua) bangunan utama. Pada saat kami berkunjung kesana salah satu bangunan utama sedang dalam perbaikan. Banyak wisatawan yang berfoto di depan gerbang utama dan juga di dalam area utama kuil. Di sebelah kiri ada bangunan kuil yang sedang di renovasi dan sebelah kanan ada tempat untuk melihat fortune atau keberuntungan dengan hanya membayar sebesar 100 yen kita dapat mengambil sejenis stik yang telah berisi nomor dalam sebuah kotak prima. Seperti mengundi arisan (indonesian taste). Dan karena cukup ramai yang mencoba hal tersebut menggugah keinginan saya untuk mencoba, hanya untuk seru-seruan.

Menarikk bukan?

Matahari semakin menyembunyikan mukanya di ufuk barat. Kamipun harus bergegas pindah ke destinasi lain. Saat itu angin bertiup sangat kencang sehingga cukup membuat bulu kuduk berdiri. Pada saat spring, angin lebih sering bertiup kencang sehingga perlu membawa pakaian yang lebih tebal untuk jaga-jaga dari dinginnya udara yang menusuk hingga ke tulang.

Tokyo Skytree

DSCF0332
Sebuah park di dekat sungai Sumida.

Skytree itu terlihat dekat namun percayalah itu masih sangat jauh. Kami menempuhnya dengan berjalan kaki dari Sensoji Temple, berbekal dengan bertanya dengan orang lokal akhirnya kami memutuskan untuk berjalan kaki. Di sepanjang perjalanan akan menemukan sebuah Park atau taman di bantaran Sumida River, dan ada pohon sakura yang berguguran di sekitar taman tersebut. kamipun mengambil beberapa capture foto sembari duduk melepas lelah. Di samping park ini ada Sumida River dan kita harus menyebrang menggunakan jembatan yang ada di sebelah kiri. Saat itu hujan rintik sehingga kami harus terburu-buru menyeberangi jembatan tersebut.

Kamipun berjalan hingga ke seberang menemukan sebuah mart atau mini market, dan nampaknya kami harus mengisi tenaga. Nasi kepal menjadi menu favorite kami di Jepang selain harganya murah juga memiliki gizi tinggi. Hahahaa. bukan, bukan. karena saya seorang muslim nasi kepal pilihan yang aman untuk makan. Nampaknya sih tidak menggunakan bahan non halal.

Hari semakin gelap, dan salah satu view saat itu yang menarik adalah lampu-lampu di Skytree Tower, warna biru, merah dan kuning bergantian bergantian di deck pertama tower tersebut. Ternyata masih cukup jauh juga berjalan hingga sampai di Skytree tower, yosh, ambil xt20 dari handbag dan cekrek – cekrek …

DSCF0334
Tokyo Skytree view at night

Seperti tidak tinggi ya, percayalah, itu bangunan paling tinggi di Tokyo. Deck pertama (bulatan pertama) itu tingginya 350 m dan deck yang kedua (lebih kecil) itu tingginya 450 m. Tiket untuk naik ke tower tersebut untuk deck yang pertama sekitar 2400 yen dan deck yang kedua sekitar 1500 yen atau sekitar 400 yen jika di totalin. Bagi traveller yang hobby dengan skyscraper sangat rekomendasi sih untuk mencoba Skytree. really, really worth it. Pertama kita harus membeli tiket terlebih dahulu, tiket bisa dibeli di counternya di lantai 4 (seingat saya). Dan setelah dapat tiket, tinggal cuss naik. Tapi sebelum naik kita akan diperiksa layaknya kita sebelum naik ke pesawat, tas diperiksa, cuman keperjakaan tidak diperiksa. Hahahha. Karena Lift hanya 2, maka pengunjung akan mengantri untuk bergantian. Disini kita akan disambut dengan onii chan, onii chan cantik dan mereka akan meberi tahu dengan bahasa Jepang. Sungguh saya tidak mengetahui apa yang sedang dia katakan, hanya bisa mengangguk saya tanda tidak mengerti. Pas ada lift langsung dipersilahkan, liftnya gede  banget dan dalamnya begitu mewah. sughoii, terlebih dengan kecepatan lift yang begitu luar biasa 350 m hanya dalam waktu 50 detik saja. Cukup mengejutkan, karena akan terasa kesulitan mendengar jika sedang dalam lift. Namun akan terbayarkan jika sudah masuk dan melihat view 360 gemerlap lampu kota Tokyo. Semuanya hanya terlihat berkilauan. Banyak spot-spot foto juga yang menarik di dalam sini. Pada saat kita masuk akan ditawari berfoto oleh onii chan lagi. Jika sesudah berfoto nanti foto langsung akan dicetak, namun jika kita tidak ingin membawa hasil foto tersebut maka kita tidak perlu membayar. Seperti tukang foto pas acara kawinan/nikahan di Indonesia yaa. hehehe.

Pemandangan dari deck 350 m

Oh ya, untuk naik ke deck selanjutnya (450 m) tiket hanya dapat dibeli di deck 350 m. Pas naik ke deck 450 m, pemandangan semakin bagus dan semakin terlihat landscape kota Tokyo di malam hari.

DSCF0392
From the 450 m of height, Tokyo
DSCF0397
Percayalah, jika foto disini kaki akan terlihat lebih panjang
DSCF0402
Sumida River from Tokyo Skytree

Malam semakin larut, waktu telah menunjukkan hampir jam 9 malam waktu Tokyo dan kami masih harus bergerilya ke tempat lain lagi. Tujuan selanjutnya adalah …….

Tokyo Tower

Salah satu bangunan yang iconic di Tokyo adalah Tokyo Tower. Sekali lintas bentuknya mirip dengan menara Eifel di Paris. Namun Tokyo Tower memiliki dominan warna merah/oranye dan terlihat lebih bagus pada malam hari. Namun sayangnya pada saat itu kamera mirrorless saya habis baterai dan handphone pun baterai sudah sekarat akibat terlalu diporsir sebelunya. Hahahahha. Dan pada saat itu juga sudah tutup, sehingga tidak sempat untuk naek ke tower tersebut.

Dan Tokyo Tower adalah destinasi terakhir yang kami kunjungi pada hari pertama saya di Jepang….