GET LOST IN TOKYO (JAPAN/NIHON) PART 2, “Horrible First Night in Japan”.

Dalam angan-angan liarpun, saya tidak pernah membayangkan “kesasar” di negeri orang, sendiri, tanpa petunjuk, handphone no connection, berkomunikasi dengan lingkungan sekitar begitu sulit. Okay, lets begin again….

Menyambung dari postingan saya sebelumnya, Get Lost In Tokyo (Japan/Nihon) Part 1, sedikit flashback, jumat pagi saya berangkat pagi dari Palembang menuju Kuala Lumpur untuk transit ke penerbangan lanjutan Kuala Lumpur ke Tokyo (Haneda), dan sampailah di Tokyo (Haneda Airport) pukul 22.30 waktu Tokyo. Setelah melewati alotnya proses imigrasi (karena new entry), saya menuju proses pengecekan selanjutnya yaitu pemeriksaan custom atau kalu di Indonesia sering kita bea dan cukai. Disini saya mendapat pengalaman baru juga, ketika dipersilahkan maju oleh petugas custom, saya langsung maju dengan memegang passpor Indonesia, paspor dengan sampul warna hijau, berbeda tentunya jika sampul passpor berwarna hitam (untuk duta besar dan utusan negara) akan jauh lebih mudah masuk ke setiap negara. Petugas custom langsung bertanya darimana asal saya sambil meminta passpor, langsung saya jawab dengan rasa bangga “Indonesia”, setelahnya saya langsung disuruh untuk membuka isi tas kamera dan tas backpacker saya, dalam hati cuma bisa berkata, “duh gimana nih baju udah disusun sesuai dengan tutorial dari youtube, bakal berantakan”. Hahaha. Dan benar jadi berantakan, baju-baju sampai handuk dalam tas backpack. Dalam hati saya cuma bisa berujar, ini karena Indonesia salah satu negara berkembang jadi pas masuk ke Jepang yang merupakan salah satu negara maju perlu diperiksa lebih ketat. Soalnya ada kejadian di depan saya, bahwa ad seorang wanita pemegang passpor warna merah, langsung disuruh lewat tanpa diperiksa. Atau mungkin bisa jadi karena appearances saya yang berjenggot, disangka teroris nih. Hahaha. Singkatnya saya dipersilahkan lewat akhirnya. Senangnya, bukan karena lega melalui proses yang lumayan panjang namun lebih karena dapet koneksi wifi bandara.  Hahaha. Sebagai catatan nih, wifi bandara baru bisa connect setelah kita melewati pemeriksaan custom.

Langsung saja setelahnya saya menghubungi teman-teman dari BPI ( perkenalan dari backpackerindonesia.com) via whatsapp messenger untuk meminta petunjuk langkah-langkah menuju penginapan. Kami menginap selama di Tokyo di daerah Nakano. YOshh!!!, sesuai petunjuk saya harus mendapatkan peta atau map di information center, letaknya keluar dari pemeriksaan custom, lihat ke arah depan, terlihat tulisan question mark (?) atau Information. Petugasnya ramah, dan bisa berbahasa inggris sehingga memudahkan kita untuk berkomunikasi.

Tourist Information center - japankuru
Pusat Informasi di Bandara Haneda, photo credit by Japankuru (https://cometojapankuru.blogspot.co.id/2015/02/transportation-from-haneda-airport-to.html)

Petugas di pusat informasi tersebut akan memandu kita bagaimana rute  dan pilihan transportasi agar sampai pada tujuan yang akan kita tuju. Setelah mendapatkan petunjuk dari petugas, saya menghubungi kembali teman, bagaimana langkah selanjutnya. Langkah selanjutnya yang direkomendasikan adalah membeli pass card (kartu pass) untuk subway. Letaknya tinggal melihat ke arah kanan dari pusat informasi tersebut akan terlihat seperti bilik tour & travel. Langsung aja bilang dengan petugas  penjaganya keperluannya membeli pass untuk subway. Ada 3 jenis pass subway yang ditawarkan, 24 Hours (one day pass), 48 Hours (two days pass) dan 72 Hours (three days pas). Harganya untuk satu hari sebesar 800 Yen/day dan kalau dirupiahkan sekitar Rp96.000,- (kurs 1 JPY = 120), untuk dua hari seharga 1200 Yen dan untuk tiga hari seharga 1500 Yen. Harga tersebut untuk orang dewasa, jika anak-anak akan dikenakan setengah harga dari harga orang dewasa. Relatif murah dengan segala kemudahan yang akan didapatkan.

top_ticket_img1
Tokyo Subway pass, masing-masing mempunyai perbedaan warna.

Satu elemen penting yang mesti dipelajari dari negara-negara maju adalah bagaimana public transportation mereka, tata kota mereka, dan budaya mereka sesuatu pengalaman yang mudah-mudahan akan menjadikan kita jauh lebih baik. Menarik melihat transportasi massal mereka (negara yang pernah saya kunjungi) seperti MRT, di Jepang, Singapura, sehingga kita nanti dapat melihat perbandingan dengan MRT di Indonesia yang masih dalam proses pembangunan. salaah satu elemen penting sebelum menaiki MRT adalah, memahami map atau peta transportasi. Ini map transportasi di Tokyo.

tokyosubway2011
Transportation Map of Tokyo, itu termasuk MRT, private train dan JR. Yang menggunakan warna solid adalah subway (Toei dan Tokyo Metro)

Cukup menantang bukan? cukup ribet maksudnya. Hahahaa. Namun percayalah ketika kita telah mampu membacanya rasa penasaran akan selalu muncul untuk megunjungi tempat-tempat lain, berpindah kereta. Ada suatu kepuasan dan keasyikan pada saat memilih jalur yang akan ditempuh hingga sampai di tujuan. Saran saya, “get lost and go  travel by yourself”. sebelumsaya akan membagi bagaimana cara membaca map tersebut, saya akan coba tunjukkan cara membeli tiket subway/train/JR di Bandara Haneda.

machine
Penampakan mesin tiket otomatis Keikyu Line di Bandara, photo credit by Japakuru (https://cometojapankuru.blogspot.co.id/2015/02/transportation-from-haneda-airport-to.html)

Langkah pertama adalah berdiri di depan mesin tersebut, kemudian lihat di kanan atas ada pilihan bahasa, namun perlu diingat default dari mesin itu menggunakan tulisan kanji, bukan alphabetic sehingga perlu menduga, di sebelah kanan atas terlihat kok English Language. Setelah pilih bahasa, kemudian lihat di layar, pilih kemana tujuan/station dimana kita akan berhenti, setelah itu muncul berapa harga tiket yang harus dibayar, biasanya kalau di Bandara Haneda ada seorang petugas yang memandu. Namun kita juga perlu mengetahui cara menggunakan mesin tiket ini. Setelah muncul berapa nominal yang harus dibayar kemudian masukkan uang ke mesin, dan mesin akan mendeteksi berapa uang yang dimasukkan tersebut. Pastinya jika kita dari Indonesia biasanya membawa pecahan uang paling tinggi, 10.000 Yen. Kalau mau pecahin duit disini nih juga tempatnya. Hahhaaa.

Sedikit saya share cara membaca map transportasi, jika kita dari Bandara Haneda misal tujuan ke Asakusa, naik train Keikyu Line (warna abu-abu di map) terus kemudian turun di station Shinagawa, ada banyak cara untuk sampai Asakusa, bisa melalui jalur station Shibuya, Shinjuku atau via Shimbashi. Tapi disini saya akan coba mensimulasikan jika menggunakan rute via Shimbashi. Dari Station Shinagawa ganti train (kereta) ke jalur JR Yamanote Line ke arah Daimon, untuk diketahui jalur JR Yamanote Line berada di surface (di atas) tanah bukan dalam tanah seperti subway. Kemudian stop di Daimon Station untuk ganti train ke subway. Untuk menuju jalur subway baik TOEI maupun Tokyo Metro (lihat di peta) mesti turun ke bawah atau underground seperti kebanyak MRT di beberapa negara. Kemudian naik subway (Toei) line dengan warna Magenta atau Oedo Line kode di map E, kode untuk station Daimon adalah E20. Dan tujuan kita adalah cari station yang berpotongan untuk menuju ke Asakusa Station. Terlihat di map berpotongan di E11 (Kuramae Station). Penting untuk diingat bahwa kita jangan sampai salah naik train dengan nomor besar atau kecil, kalau salah naik train kita akan dibawa menjauh dari tujuan. Namun jika sudah mahir dalam membaca map, hal tersebut tidak akan menjadi suatu masalah besar, tinggal change train di station lain. Di dalam subway station terdapat 2 jalur, satu akan mengarah ke nomor besar misal dari (E20 ke E19 ke E18) dan satunya akan mengarah ke nnomor kecil misal dari (E20 ke E21 ke E22). Lanjut, naik train dari E20 (Daimon Station ke Kuramae Station (E11). Sampai di station Kuramae, change train ke jalur Asakusa Line (kode train A) dengan warna jalur di map berwarna rose. Dari A17 naik ke satu station A18 (Asakusa). Dan sampailah di Asakusa, mudah bukan? Hehehe.

So, lets continued to my story….

Saat itu saya putuskan untuk menuju Tokyo pada malam itu juga, saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 23.45, yah saya harus ke Shinjuku sesuai dengan pentunjuk dari teman saya. Tujuan adalah nakano, di map bisa dilihat di jalur Tozai Line (T01) atau pemberhentian akhir untuk subway Tozai Line. Cukup jauh dari Haneda Airport, petunjuk yang diberikan adalah dari Bandara naik Keikyu Line kemudian di Shinagawa change ke JR Yamanote Line sampai di Shibuya, Ganti ke Ginza line sampai ke Nihombashi (G11 T10 A13), change ke Tozai Line sampai ke Nakano (T01). Begitu terstruktur rencana perjalanan malam itu. Semuanya begitu lancar dan aman setidaknya sampai di Shibuya Station. Hehehe. Ketika sampai di Shibuya Station ternyata begitu terkejutnya, subway jalur Ginza Line telah tutup atau tidak beroperasi lagi, kira-kira saat itu pukul 00.30. Betapa bingungnya saya saat itu, karena tidak ada plan B dalam perkiraan saya. Saya sempat bingung berdiri di Station dan ada Turis juga sempat memebantu saya, bagaimana cara sampai ke Nakano, dengan hape iphone di tangannya dia coba mencari alternative ke Nakano. Saya kemudian mencapture rute yang diberikan oleh si turis. Oh iya, satu kesalahan terbesar saya adalah ke Jepang waktu itu tidak menggunakan paket data luar negeri sehingga sejak keluar dari Bandara Haneda “You are alone”, you must think and decide by yourself. Jika ingin bepergian atau traveling satu hal yang wajib “jaman now” adalah koneksi internet, setidaknya jika seandainya tersasar atau mau komunikasi dengan orang jepang bisa menggunakan google translate. Lanjut, tiket yang saya miliki sudah tertelan oleh mesin exit gate, saya pun panik. Mau beli tiket kembalipun saya tidak tahu bagaimana caranya, sampailah saya meminta bantuan kepada penduduk lokal “how to use this machine for 1 ticket”, lucky me, she can use english very well. Dibantunya saya sampai mendapatkan tiket kembali. Dengan malam yang semakin larut, perut lapar (di pesawat tidak pesan makanan dan di jepang belum makan sama sekali), terakhir makan adalah pada saat di Kuala Lumpur. Saya putuskan untuk menuju ke Takadanobaba (T03) dengan terus berharap subway jalur Tozai Line masih ada.

Yoshh…!!

Saya menunggu train JR Yamanote Line menuju ke  Takanobaba, dan akhirnya kereta yang ditunggu lewat, sungguh betapa terkejutnya, keretanya sangat penuh, maklumlah itu kereta terakhir yang beroperasi. Kalau kalian pernah melihat di video, train di Jepang di dorong dari luar oleh petugasnya supaya muat, saya pernah mengalami kondisi seperti itu, tentunya dengan tas backpak di punggung menambah penderitaan malam itu, semua orang saling doroong di dalam. Posisi saya pada saat itu ada di sebelah pinggir sehingga jika kereta sedang berbelok ke arah berlawanan dari posisi kita, terbayangkan seluruh penumpang di sebelah menumpu ke arah saya, saya hanya bisa mendengar suara-suara menggunakan bahasa lokal, mungkin saya menafsirkan “duh tolong nih kejepit”. Hari itu saya dapat pelajaran bahwa, di Jepang pada saat jam terakhir itu dalam train itu banyak cewek atau cowok muda memakai seragam sekolah, mungkin baru pulang sekolah, jam di tangan saya menunjukkan pukul 01.00 waktu Tokyo, semakin crowded karena itu hari jumat, besoknya adalah weekend, seolah menambah crowdednya isi dalam kereta.

Akhirnya…!!!

Sampailah di Takadanobaba Station, saya turun untuk pindah ke Tozai Line, namun betapa terkejutnya saya, subway tersebut telah tutup. Aaarrghhhh ZONK ini!!! hahahaa. Lebih terkejut lagi pas keluar dari station, lihat sekitaran station tidak ada satu tulisanpun menggunakan huruf alphabetic, hanya ada tulisan menggunakan huruf kanji. I finish in there!!! Haahaha. Saya coba melihat map station di sekitar station namun masih belum membantu karena masih sama saja menggunakan huruf kanji. Hari semakin larut, jam ditangan saya telah menunjukkan pukul 01.30. Saya sempat cukup lama berpikir, apa yang harus dilakukan saat itu. Seakan ada mukjizat, saya liat di Handphone terhubung dengan koneksi wifi milik Takadanobaba Station, pikiran saya langsung mencari jalan ke Nakano Station. Jika dilihat dalam map, hanya berjarak dua kali pemberhentian dari Takadanobaba Station (dari T03 ke T01) dan berbentuk garis lurus, namun kenyataanya tak seindah dalam peta. Hahahaa. Selagi saya mencari direction via google map, saya lihat ada pemandangan unik di sekitar Station tersebut, di seberang station saya melihat cewek menggunakan price tag di bagian depan badannya, saya coba untuk memasati apa yang tertulis di tag itu. Cukup jelas, itu adalah nominal harga, 25.000 Yen. Cukup mahal, jika dalam rupiah sekitar Rp.3.000.000,- Jujur, saya tidak tahu apa maksudnya.  Saya lihat dia tersenyum dan sambil menawarkan dengan bahasa jepang. Tak selang beberapa lama, cewek Jepang tersebut tidak ada lagi, sudah ada yang pick up sepertinya. Sold Out.

Akhirnya koneksi internet pun sudah tidak ada lagi seiring tutupnya Takadanobaba Station. Yups, usai sudah. you are alone. I decide to walk all night long with only subway map of Tokyo for references. just go ahead…

Saya berjalan entah kemana pokoknya harapannya sampai di Nakano Station dengan selamat. Pukul 01.30 saya mulai berjalan kaki menyusuri gemerlapnya kota Tokyo, tapi karena udah kelewat malem, sinar gemerlapun seolah telah redup, toko-toko makanan sudah tutup, hanya tersisa mart atau toserba yang 24 jam. Jalan tanpa petunjuk map (google map) penuh tantangan loh, saya bertemu laki-laki penduduk lokal yang memakai setelan jas lengkap dengan tas khas penduduk lokal. Namun ada yang sedikit aneh dengan gaya jalan dan suka ngomong sendiri teriak-teriak. Dalam hati saya bilang, ini orang abis pulang kerja kemudian minum sake sampe drunk over. Antara unik dan ngeri saya melihatnya. Hahhahaa. Dengan beban tas backpacker yang semakin lama terasa semakin berat saya menyusuri kota dengan petunjuk jalan yang terpampang di persimpangan jalan. Berasa seperti sedang hiking pramuka, mencari jejak dengan petunjuk seadanya. Sudah berjalan sekitar setengah jam, ketika melihat sebuah Seven Eleven rasanya bahagia banget, karena dalam benak saya pasti terselesaikan nih permasalahn mencari alamat. Dan masuklah saya ke mart tersebut, dengan dalih membeli air mineral. Tiba saatnya di depan kasir untuk membayar, saya mencoba bertanya “Where is direction to Nakano Station?” Which way?”, saat itu saya tambah begitu terkejut karena penjaga toko tersebut tidak mengerti bahasa inggris. Saya cuma bisa bilang “arigato”, dan tidak ada jalan lain kecuali untuk melanjutkan perjalanan. Just spend time by walk all night long.

IMG_1026
Family Mart near Takadanobaba Station, terlihat jam 12 an orang baru pulang kerja

Petunjuk yang saya punya adalah map dan petunjuk di persimpangan jalan, pokoknya jika ada tulisan “nakano”, hajarr saja. Sampailah ke persimpangan 4, yang kebetulannya 2 jalannya ada embel-embel Nakano nya. Hahahhaa. Malam makin larut dan jalan mulai berkabut saking dinginnya udara malam itu. Tidak ada pilihan, harus pilih salah satu, try and error lah. Dan benar, akhirnya error yang didapat. Setelah jalan sekitar 700 atau 800 m, ketemu sebuah station (ada di map) stationnya, dan juga ada embel-embel nakano, Higashi Nakano Station. Cuman bisa duduk di pelataran Station tersebut, kebetulah ada kayak bangku taman, cukuplah untuk melepas segala peluh dan lelah sebentar, sebelum memutuskan mau kemana lagi tujuan. Sekitar 15 menit saya hanya duduk dan melihat sekitar, kakipun sudah kini mulai mendapatkan “nafasnya” kembali. Lets move, lets get lost again.

Takadonobaba
Rute yang saya tempuh dengan jalan kaki dari Takadanobaba Station ke Highasi Nakano Station, diilustrasikan dari google map saat ini.

Saya mulai pberjalan kembali kembali ke persimpangan sebelumnya, persimpangan yang hampir di seluruh simpangnya ada embel-embel nakano. Cukup jauh untuk kembali ke perempatan tersebut, terlebih ditempuh dengan jalan kaki. Satu hal yang mejadi sesal saat itu adalah, kenapa saya tidak menggunakan paket data roaming di luar negeri ataupun membeli kartu perdana untuk paket data di luar negeri. Hal itu sangat penting jika kita mulai kesasar. Dalam perjalanan kembali ke perempatan, saya melihat pemandangan yang tidak biasa di seberang jalan. Terlihat sebuah mobil sport yang sedang ditiliang oleh polisi lalu lintas setempat, si pengendara hanya pasrah ketika ditilang oleh polisi tersebut. Cukup mengejutkan karena jam saat itu kira-kira sudah menunjukkan pukul 01.30 an, cukup larut malam. Cukup berbeda dengan di Indonesia, yang biasanya jika sudah larut malam tidak ada petugas/polisi yang berjaga di lalu lintas jalan raya. Sampai di perempatan saya berhenti sejenak di sebuah bangku panjang, untuk sekedar mengamati sekitar. Ada hal yang membuat saya takjub, jam pada saat itu sudah hampir jam 02.00 malam namun para pemakai jalan masih mematuhi rambu-rambu lalu lintas, lampu merah lah lebih tepatnya. Seakan seluruh aktivitas telah tertata dengan rapi, semua sesuai dengan jalur/line nya masing-masing. Termasuk pejalan kaki yang akan menyeberang juga tetap mematuhi rambu-rambu.

Try and Error, itu semboyan yang saya punya pada malam itu. Pilih jalan lurus, mungkin saja jalan lurus adalah jalan yang terbaik (sebelumnya saya tersesat karena memilih jalan yang ke kiri). Mungkin jalan lurus lah yang benar. Hahaha. Lanjut sih, jalan lurus saja menyusuri pinggiran jalan, jalan yang tidak seberapa luas, jalan yang muat hanya 3 mobil. Jalan tak berujung, lama kelamaan jadi putus asa juga. Terlihatlah taksi berseliweran di jalan, kayaknya taksi nih opsi terakhir malam itu. Namun yang jadi pertanyaan saat itu, “Nih gimana cara stop taksinya?”, soalnya ngebut bgt tuh taksi lewat. Hahhaaa. Saya amatin sekitar dulu, gimana sih cara stop taksi. Setelah liat orang stop taksi, saya beraniin coba stop taksi.

Takadonobaba2
Ini dari hasil google map (ilustrasi) dari Highasi Nakano ke Nakano Station, disini tidak termasuk tersesat masuk lorong-lorong.

Percobaan pertama, saya coba stop pake cara yang dipake di Indonesia, melambaikan tangan, ternyata tuh taksi engga berenti malah jalan terus. Hahhaaa. Percobaan kedua, kurang kuat melambainya kayaknya tadi, lebih powerfull deh sekarang, dan berhentiiii, Hahaahaa. Saya kira suksess, ternyata tuh taksi berenti di deket saya karena ada orang lokal yang stopin tuh taksi persis di deket saya. Hahaha. Bukan rejeki nih. Next to percobaan ketiga, I feel success because the taxi stop at right of my eyes. Hahhaha. Pintu taksi di Jepang otomatis kebuka sendiri loh, itu bener-bener ngagetin, soalnya mau dipegang panelnya eh udah kebuka sendiri. Masuklah saya ke kabin taxi itu, yang buat saya bingung tuh driver langsung ngomong bahasa Jepang, diajak ngomong english ga bisa. Langsung saya kasih alamat hostel yang di book via http://www.booking.com, saya bener-bener ngga tau pak driver ngomong apa. Canggihnya taxi di Jepang, di dashboard taxinya ada digital map kayak google maps sih, diinputlah koordinat hostel saya. terus dia coba tunjukkin, wah katanya ga jauh nih (dalam bahasa jepang) kayaknya sih gitu dari gesture dia jelasin, suruhnya lewat lorong kecil, yang cuman bisa muat satu mobil. Saya disuruhnya turun, jalan kaki aja ikuti jalan ini terus, seingat saya sih yang jelas dia bilang “Kore” atau これ , kore itu berarti kata tunjuk ini atau itu. Singkat kata saya coba telusuri lorong tersebut, terlihat keheningan malam, orang-orang lagi pada tidur kelihatannya. Sampai di ujung lorong terlihat lampu-lampu, ternyata itu kayak kafe remang-remang dengan banyak wanita di luarnya. Hahhaaa. Sungguh pengalaman yang menyenangkan, untuk beberapa saat  saja pastinya. Di sepanjang lorong tersebut tidak ketemu juga penginapan “Yadoya Orange Backpacker, Nakano”. Sehingga saya berpindah ke lorong yang lain, seketika saya melihat melihat sebuah warung kopi dengan embel-embel “Wifi” lengkap dengan logonya. Disitu saya merasa girang, Hahahaaa.

Singkat saja, saya masuk ke dalam dan menyapanya, saya mencoba memesan kopi menggunakan english, seketika saja dia tercengang, dia tidak tahu apa yang saya ucapkan, Hahahaha. Dia menggunakan bahasa jepang saya english, cukup merepotkan bagaimana bisa ketemu apa maksud keduanya sampai-sampai menggunakan bahasa isyarat. Dia menyilangkan kedua tangannya di depan dada, saya tidak tahu apa maksudnya, sampai terjadi perdebatan panjang akhirnya saya mengerti, “Toko sudah tutup nggak bisa lagi pesen”. Saya minta tolong wifi saja biar nggak nyasar, hahaha. Tapi entahlah dia tidak mengerti komunikasi kami berdua yang searah. Daripada diteriakin maling, saya putuskan mengalah, untuk keluar dari toko tersebut. Well, i dont know what i’m to do now except keep walking. Jalan menyusuri keheningan malam, masih di lorong-lorong yang lain, merasa capek akhirnya saya istirahat di depan sebuah klinik dan mini market Seven Eleven atau  Family Mart saya lupa tepatnya. Saya melihat sebuat logo “Wifi” di pintu mini market tersebut, seolah dapat penyelamat saat itu juga. Hahahha. Cus, langsung masuk bertanya dengan kasir, tentunya saya juga membeli sesuatu (pocky stick) biar enak nanya-nya. Ternyata free loh, tanpa password. Tanpa basa basi, langsung google map beraksi, saya sempet capture nih hasilnya waktu itu.

IMG_1027
Hasil pencarian pertama via google map
IMG_1029
Hasil pencarian kedua via google map

Ada dua opsi yang direkomendasikan oleh google map, saya pilih opsi pertama karena opsi kedua kayaknya lebih ribet. Klo jalan ada google mapnya online atau live sih enak, ini baru jalan 10 meter koneksi internet dah ilang, jadi mesti di capture, setidaknya ada petunjuk jalanlah. Jalan keluar lagi ke jalan besar, di map yang pertama arah keluar, pas udah di luar jalan sebelum perempatan, disini saya melihat penampakan langka yang tidak dijumpai di Indonesia, disitu lagi ada perbaikan trotoar dan satu jalur jalan sehingga jalan yang dipake cuman satu arah. Karena hal itu, ada lampu merah untuk pejalan kaki, diatur oleh petugas yangs edang melakukan perbaikan jalan. Dibuatkan jalur khusus untuk pejalan kaki, uniklah kondisi pada waktu itu. Pejalan kakipun diperhatikan sehingga tidak ada kesemrawutan. Bedalah kondisinya dengan yang ada di negara kita tercinta. Jalan kaki ngikutin petunjuk google map,  sampai dengan titik merah itu. Senang rasanya, udah sampai di TKP nih kayaknya. Semua tutup, dari pintu dan jendela dari tempat yang lebih mirip dengan ruko tersebut. Kebetulan di depannya ada Family Mart, jadi saat itu bisa pinjem wifinya, saya coba hubungi temen via whatsapp call, tapi tidak ada respon satupun. Hahhahaa. Coba lagi diliat di depan ada kyak kertas putih berisi nama tempat, eh baru sadar nih salah tempat, disitu tertulis “Yadoya Orange C” yang saya book adalah “Yadoya Orange D”, Hahhahaa. Savagee. malam masih panjang niih, udara pun makin kurang bersahabat, dingiin bgt dah.

IMG_1033
Ini yang saya capture dari Yadoya Guest House C, meskipun blur tapi original dari Nakano. LOL

Langsung tanpa pikir panjang, mumpung ada koneksi, google maps beraksi, ini hasilnya

IMG_1032
Hasil pencarian capture map 1
IMG_1031
Hasil pencarian capture map 2

Biar enggak nyasar, dicapture sampe lokasi tujuan. Saya ikutin direction yang direkomendasikan oleh google maps, dengan mode untuk pejalan kaki. Jauh deh Pokoknya itu, sampai di deket Nakano Station tuh rekomendasi di map harus menyeberang rel, eh pas sampai disana itu pintu tutup. Udah jauh berjalan nggak bisa lewat. Hahhahaa. Lemas deh kaki sama pundak, tas backpacker ini rasanya dah makin berat. Keluar ke jalan besar terus menuju ke Nakano Station, padahal jalan ini tadi udah dilewatin. Hahahaha. Saya inget, petunjuk yang diberikan temen pas di Haneda, nanti klo di station ada KFC, liat lorong kiri masuk aja, terus ke dalam sampai ada plang “Yadoya Guesthouse for Backpacker”. Dan tepat, akhirnya bisa sampe nih ke TKP (yang sebenarnya”. Seneng banget nih, bisa tidur pokoknya nih, kaki udah lemes banget. Udah jam 3 an pagi waktu itu. Pencet bell dahh pokoknya, eh iya ini kan bukan hotel jadi nggak ada lobby yang selalu ada mbak-mbak reseptionist. Kayaknya udah berkali-kali pencet bell, juga nggak ada respon. Mesti ngubungin temen nih, karena koneksi internet nggak ada, saya mesti cari mini market terdekat, dan yang terdekat adalah, di luar, di jalan besar, deket Nakano Station. Bawak lagi btas backpacker, jalan kaki lagi ke luar, dan beli minum lagi biar enakan pake wifinya, entah udah berapa botol minuman yang dibeli, ada yang air mineral biasa, yang berasa, yang isotonik. LOL.

Nelpon deh ke temen, via whatsapp call, saya coba berkali-kali2 ke semua temen di group wa traveler Jepang. Dan luar biasanya ga ada respon sama sekali juga, dan harapan satu-satunya ninggalin pesen di wa, dan berharap pas di perjalanan ke Hostel dari mini market ada yang kebangun terus bukain pintu. Saya putuskan balik ke hostel, jalan kaki lagi dahh. Sampe disana nggak ada tanda-tanda ada yang nungguin, saya coba pencet bell lagi, setelah berkali-kali juga dapet hasil yang sama, “no respond”. Mesti coba telpon lagi nih, soalny nggak tahan dingin banget udaranya, di bawah 10 derajat, di luar lagi. Ke mini market lagi dah ngulangin cara yang tadi, dan tetep nggak dapat hasil juga, balik lagi ke depan Hostel. Pencet bell lagi, pasrah aja waktu itu, jam udah jam 4 an lewat, lumanlah mondar-mandir ngabisin waktu. LOL. Jam setengah 5 waktu itu, saya putusin tidur di luar deh berharap ada yang keluar, saking capeknya tidur juga kayak gembel deh tidur di depan pintu. Eh iya waktu spring jam 4 disana udah terang kayak jam 6 di Indonesia. Shubuhnya aja jam 03.15 waktu Jepang, +2 dari WIB. Jam 06.30 kebangun deh karena ada yang buka pintu, muncul dua orang cewek, mukanya sih Indonesia banget, jadi saya langsung tegur juga, yang dari BPI (backpacker indonesia) kan. Seneng banget rasanya, pas mereka jawab “iya”, need some sleep banget nih pokoknya. Entah berapa kilometer distance yang sudah saya tempuh malam itu dengan jalan kaki.

Itulah sepenggal kisah “malam pertama” di Jepang, sebuah pengalaman yang membuat saya jadi lebih baik. Kalau semisal nyasar nggak dimanapun takut lagi, bahkan untuk Jepang yang unpredictable Alhamdulillah saya bisa lalui. Tapi saran saya, semua orang pasti nggak pengen nyasar, tips dari saya sih:

  1. Rencanakan perjalanan dengan matang, Plan A dan Plan B penting loh.
  2. Kalau semisal sampe di negara tujuan tengah malem, mending nginep di Bandara aja, jangan nekad, terlalu berisiko.
  3. Mesti punya koneksi internet deh, beli paket wifi atau beli paket yang bisa roaming di luar negeri. Penting banget nih internet biar bisa nunjukkin jalan kalau kita tersesat. Penting juga buat eksistensi diri, update social media. LOL
  4. Jaga kesehatan, sakit di negeri orang bakalan ribet.
  5. Jangan pernah takut tersesat, orang baik selalu ada kok dimana-mana.

Sekiaann, pengalaman saya semoga sharing saya bermanfaat, just lest travelling around the world.

Keep travel, go outside and get experiences.