Get Lost in Tokyo (Japan/ Nihon) Part 1

Pagi itu, jumat terakhir di bulan April tahun 2017, matahari terbit dari timur seperti biasanya, dan namun ada sesuatu yang tidak biasa di pagi itu. Biasanya di setiap pagi dari senin sampai jumat selalu disibukkan dengan mandi pagi, bersiap untuk aktivitas rutin harian aka “kerja”. Masih sempat menyeruput kopi, dan masih sempat mendengar musik (dulu sebelum musik dihilangkan dari smartphone saya) lantunan “rockabye” masih terngiang-ngiang begitu jelas. Yeay!!, pagi itu suasana hati sangat gembira bukan karena baru dapat undian atau lottery, namun karena day off, saya akan cuti selama 5 hari, bahasa kerennya sih “annual leave“, lebih bersemangat lagi saya akan pergi ke suatu negeri yang kental dengan industri Anime dan Manga, lebih lagi JAV.

Matahari pagi itu seakan menyambut kegembiraan saya dengan sinar cerahnya, angin bertiup sepoi-sepoi, dengan hanya bermodalkan 1 (satu) buah tas backpacker dan 1 (buah) tas hand carry (tas kamera Fujifilm XT20) serta kebulatan dan ke-nekadan. Tips dari saya sebaiknya kalau pergi traveling perlu banget bawa kamera, mirrorless lebih simple karena bentuknya yang lebih kecil namun hasilnya jepretannya cukup bagus. Karena momen-momen penting disaat liburan perlu diabadikan, memang kamera handphone sekarang sudah banyak yang bagus namun jika kalian telah merasakan dahsyatnya hasil dari kamera DSLR/Mirrorless, cukup ada penyesalan jika tidak mencoba untuk membawanya. Sedikit review dari kamera mirrorless yang saya gunakan, XT20 cukup bagus dari hasil mapun fleksibiltasnya karena body nya yang kecil.

IMG_2517
Mirrorless Fujifilm XT20 with Lensa XF 18-55 mm (action figure yang difoto dibeli di Jepang)

Kemudian saya memesan sebuah mobil transportasi online (transportasi yang masih jadi perdebatan sampai dengan sekarang) whateverlah yang penting saya bisa sampai bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang. Perasaaan saya pagi itu campur aduk, antara excited dan nerveous, karena ini perjalanan pertama saya meninggalkan tanah air, paspor saya masih kosong Hahahaaa. Belum ada cap negara lain.

Sempat terpikir dalam benak saya melihat baju yang akan dibawa, apakah cukup baju dan semua peralatan selama di Jepang 9 hari dalam satu tas Backpack. Saya mengira juga sebelumnya bakal tidak cukup semua baju dimasukkan dalam tas, namun berkat the power of youtube , semua bisa teratasi. Banyak kok di youtube yang membagikan cara melipat baju supaya lebih terlihat kecil, baju/kaos digulung bahkan celana panjangpun bisa digulung, tentunya dengan teknik yang telah didemontrasikan. Jangan lupa untuk membawa peralatan mandi sendiri dan handuk sendiri, karena di penginapan yang akan dituju di Jepang (maklumlah penginapan murah meriah, dormitory) sehingga semua harus modal sendiri kecuali bantal yang udah disediain disana. Dan lagi ini penting diketahui, satu kamar mandi untuk beramai-ramai jika memilih menginap di Dormitory.

IMG_1936
Penginapan kami pada saat di Osaka, ini yang dinamakan Dormitory atau barak istilah Indonesianya.

Singkat cerita, saya sudah duduk di ruang tunggu di keberangkatan Internasional. Saya melihat sekitar, disana saya cukup teralihkan dengan sebuah fasilitas unik. Ada sebuah fasilitas dari telkom yaitu sebuah pesawat telpon yang free atau tanpa biaya untuk bisa menelpon nomor telepon lokal. Sambil menunggu, saya manfaatkan untuk menelpon teman kerja di kantor untuk sekedar say “hai”. Menurut saya sih, fasilitas ini cukup menarik dan mungkin jarang digunakan (karena terlihat usang) sejak jaman telah beralih dari pesawat telepon ke mobile phone yang lebih praktis.

Pesawat yang ditunggu dengan No. Flight AK450 akhirnya mendarat, dan selang sekitar setangah jam kami dipersilahkan masuk ke dalam pesawat, pesawat yang saya tumpangi adalah pesawat yang medapat predikat “The Best Low Cost Carier” oleh Skytrax, jadi di pesawat ini jika kita ingin memilih tempat duduk pada saat check in kita akan dikenakan biaya tambahan. Well, saya sengaja tidak memilih kursi karena low budget, hahahaaa, dan mendpapt kursi yang acak dan berharap di dekat kursi adalah seorang wanita muda. Jadwal keberangkatan kami mundur sekitar satu jam dari jadwal keberangkatan yang seharusnya. Kalau menggunakan LCC, dikenakan biaya tambahan untuk bagasi, diperkenankan cuma untuk bagasi kabin maksimal 7 kg. Namun, pengalaman saya pada saat keberangkatan tidak terlalu menjadi perhatian dari pihak maskapai, namun jika tujuan pulang bakal menjadi perhatian serius, petugas maskapai seakan terlatih dengan matanya yang tajam menilai berapa kg barang bawaan milik penumpang. Bahkan teman saya (rombongan backpack travel japan) pada saat di Bandara Kansai (Osaka) dilakukan pemeriksaan (ditimbang) dan melebihi 7 kg, dikenakan sekitar 5.000 yen per flight. Lumayan sekitar 600 ribuan per flight, karena transit maka dikenakan dua kali sehingga menjadi 10.000 Yen, untuk tambahan bagasi. Jadi mesti smart dalam memanage barang bawaan dan belanjaan. Sebenarnya sih mereka melakukan penimbangan secara random, tidak semua ditimbang, namun untuk antisipasi perlu di manage.

Ak452
Ini tampilan pesawat jika di tracking ke http://www.flightradar24.com

Akhirnya kami mendarat dengan selamat di Kuala Lumpur International Airport (KLIA2), sebagai catatan di Kuala Lumpur (Malaysia) jika menggunakan maskapai Low Cost Carier akan diturunkan di Terminal atau Bandara KLIA2, selain itu akan diturunkan di KLIA. Saya turun di gedung terminal tersebut untuk berganti ke penerbangan lanjutan ke Tokyo (Haneda). Turun ikuti saja ke arah masuk bandara, kemudian jika sampai perlintasan (ada dua pilihan, ke kiri “Perlintasan Antar Bangsa” ke kanan “Imigrasi”). Tentu yang dipilih adalah Perlintasan antar bangsa, setelah melewati pemeriksaan X – Ray, kita akan menemukan ruang tunggu yang luas, beberapa kursi dibuat nyaman untuk sekedar berbaring, dan ada banyak colokan listrik untuk mengisi ulang “gadget”. Namun perlu diingat colokan di Malaysia menggunakan kaki tiga, berbeda dengan di Indonesia yang menggunakan kaki dua. Perlu converter agar colokan kita dapat digunakan dengan colokan listrik disana. Lain halnya dengan di Jepang, colokan listrik menggunakan colokan dua yang pipih/kotak bukan bulat seperti di Indonesia. Terdapat perbedaan waktu satu jam (+1) waktu Malaysia dengan waktu Indonesia (WIB). Saya sampai di Kuala Lumpur International Airport pukul 11.20 (waktu Malaysia), sedangkan keberangkatan selanjutnya terjadwal pukul 14.25. Masih banyak waktu untuk sekedar mengisi perut dan beristirahat sejenak.

052013_0710_MacammacamS1
Macam-macam colokan listrik di berbagai negara

Dari colokan seperti gambar di atas, colokan listrik di Indonesia menggunakan form seperti EU (Eropa), Malaysia menggunakan form UK (United Kingdom), dan Jepang menggunakan form US (United States). Ada colokan yang multifungsi, bisa semua bentuk di atas, dapat dibeli di toko hardware seperti Ace dll. seperti gamabr di bawah ini:

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Converter multiguna

Singkatnya saya sudah duduk di kursi di row sebelah kiri tepatnya nomor 24B di dalam pesawat dengan nomor penerbangan D7 522. Sebagai informasi, durasi perjalanan dari Kuala Lumpur ke Tokyo akan ditempuh selama sekitar 7,5 Jam. Pesawat yang mengangkut kami adalah salah satu pesawat yang berasal dari Prancis produsennya dan salah satu produsen pesawat terbesar di Dunia, Airbus, tepatnya Airbus A330, pesawat jenis medium dari Airbus. Perjalanan dari Indonesia sampai dengan Jepang saya lakukan dengan sendirian, sehingga kadang merasa kesepian. hahahhaa. Rombongan travel yang kenal sebelumnya dari sites www.backpackerindonesia.com telah berangkat dan sampai satu hari sebelum keberangkatan saya. Tepat sesuai rencana, bahwa disamping kanan dan kiri saya adalah wanita, satu dari Thailand dan satu dari Jepang. Karena keterbatasan bahasa, kami sering tidak saling menyapa selama perjalanan.

IMG_1022
Pesawat Air Asia D7522 (Kuala Lumpur – Haneda)

Pelajaran penting saat bepergian dengan durasi lebih dari 2 jam :

  1. Jika menggunakan maskapai Low Cost Carier (LCC) sebaiknya membeli makanan di atas. Pengalaman seperti saya menderita kelaparan akibat tidak memesan makanan di atas pesawat.
  2. Perlu membawa powerbank untuk smartphone, karena tidak ada media hiburan di pesawat dengan label LCC.
  3. Perlu meletakkan alat tulis di tas yang hand carry. untuk mengisi form isian imigrasi dan custom di bandara Haneda.

Pada saat on board biasanya flight attendant atau pramugari membagikan lembar/form yang harus diisi, ada dua form yang dibagikan yaitu yang pertama form imigrasi dan kedua form custom (cukai).  Tips dari saya sebaiknya halaman passport difoto, untuk keperluan pengisian form imigrasi agar tidak sulit jika harus membuka passport, dan perlu informasi alamat pada saat stay di Jepang. dan juga mempersiapkan stationery, karena ini akan dibutuhkan untuk mengisi form tersebut. Pengalaman saya yang tidak membawa alat tulis, maka saya harus meminjam dengan penumpang di sebelah, tentunya kita harus menunggu dia sampai selesai mengisi form tersebut. Saya coba cari di google fotonya kira-kira seperti ini:

japanimmigration
Form Imigrasi, sebaiknya diisi di atas pesawat
5360-B
Form Custom (Cukai)

Tepat pukul 22.30 waktu Tokyo (+2 jam dari waktu Indonesia, WIB), pesawat mendarat di Bandara Haneda International Airport, dan saya pun masuk ke pemeriksaan Imigrasi. Di sana sudah terlihat antrian yang panjang mengular, dan di sudut kanan ada antrian yang pendek, sontak saya ingin masuk ke antrian tersebut, namun saya mencoba melihat keterangan di atas gate tersebut, “For Local Citizen / Japan Resident”, sontak saya mengurungkan niat tersebut.

1
Haneda International Airport (courtesy: google.com)

Akhirnya, saya bisa melihat petugas imigrasi yang akan meverifikasi setiap warga negara luar negeri (maksudnya selain warga Jepang). Petugas imigrasi yang bertugas meverifikasi, ada dalam bilik-bilik (ruangan kecil), dan pada saat itu saya berdoa dalam hati semoga petugas imigrasi yang “menginterogasi” adalah cewek Jepang, maklumlah selama ini hanya bisa melihat cewek Jepang dari pesawat televisi, hahahaa. dan doa saya nampaknya dikabulkan, ketika petugas imigrasi yang mengarahkan setiap yang sudah antri di jalur antrian untuk menuju ke bilik yang telah diarahkan. Saya cukup kaget pada saat melihat petugas imigrasi yang bertugas mengarahkan, karena petugas tersebut saya duga sih berumuran lebih dari 60 an tahun, sekali lintas saya merasa kasihan (budaya Indonesia yang canggung jika melihat orang yang tua, usia pensiun, masih bekerja di layanan publik). Namun, ketika saya tahu alasan mengapa mereka masih bekerja, saya cuma bisa “angkat topi” untuk mereka. bahkan mereka berstatus volunteer biasanya. Jadi kenapa mereka masih bekerja untuk layanan publik, alasannya karena semasa muda mereka disibukkan dengan urusan pekerjaan masing-masing, sehingga pada masa tua mereka ingin memberikan tenaganya untuk mengabdi kepada negara salah satunya bekerja di layanan publik. Tidak saja ada di imigrasi, namun saya juga bertemu sebagai petugas keamanan di stasiun kereta subway. Petugas tersebut sangat ramah dan menggunakan bahsa inggris dengan lancar. Di ruangan tersebut kita harus bersikap tenang, tidak boleh ribut dan tidak boleh melakukan capture foto. Hal itu sangat penting jika kita tidak ingin di deportasi lebih awal. Hahahahaa. They have rule and we must to complied. Lets Continue…

Saya berdiri di dekat bilik, setelah diarahkan oleh petugas imigrasi yang saya ceritakan sebelumnya. Tepat di depan saya adalah tourist juga dari negara indo china (melihat dari fisik) dan dugaan saya benar setelah melihat warna paspor warna merah dan tertulis “Hongkong”. Perasaan saya terasa gugup saat itu, karena ini pertama kalinya saya akan menghadapi petugas imigrasi (bukan di Indonesia), dan kejadian di depan saya membuat saya semakin gugup. Jadi begini, tourist di depan saya tidak bisa menunjukkan (tidak menuliskan alamat di lembar form imigrasi) alamat dimana akan tinggal di Jepang, dan dia masih menunggu pesan dari aplikasi messaging dengan empat huruf, dan sialnya koneksi internet tidak ada. Sehingga tourist itu yang kebetulan seorang wanita paruh baya, dipersilahkan untuk “move aside” dari antrian sampai dia dapat memberitahu akan tinggal dimana di Tokyo. Keberuntungan seolah menjadi milik saat itu, setidaknya sesaat, hahahha.

20160320_narita_immigration_article_main_image
Suasana pada saat masuk ke ruang imigrasi (foreign passport and japanase citizen)
p19-brasor-media-mix-a-20150614
Suasana pada saat para visitor di arahkan oleh petugas imigrasi Jepang

Saya maju menghadap petugas imigrasi setelah dipanggil, dan menyerahkan form imigrasi yang telah diisi dan paspor yang telah dilengkapi visa Jepang, akhirnya proses verifikasi dimulai. Proses verifikasi berjalan lama untuk saya, entahlah akibat saya berasal dari Indonesia (negara berkembang) atau karena itu kunjungan pertama saya ke luar negeri. Saya sendiri tidak bisa memastikan. Terlalu banyak pertanyaan yang diajukan oleh petugas imigrasi tersebut, hahahhaa. karena saya melihat tourist yang di bilik lain sudah silih berganti, sedang saya belum beranjak. pertanyaan yang diajukan banyak, dari mana asal, tujuan ke jepang, dimana tinggal di jepang, kemana saja di jepang, ada temen di jepang atau nggak, sampai dia yakin bahwa saya cukup layak masuk ke Jepang. setelah sekitar setengah jam dan dihantam bertubi-tubi pertanyaan, akhirnya petugas tersebut menyuruh saya “please put your finger at the machine, all your finger”. Betapa leganya saat itu ketika semua proses di imigrasi selesai. Tapi jangan senang dulu.. hahahhaa, masih ada pengalaman yang mengharukan selanjutnya. hahhaaa

immigration-officers-naia
Suasana pada saat dilakukan verifikasi oleh petugas imigrasi